Teler Berakibat Maut

Global Desain Website | 07.54 | 0 komentar

 
Dp Rentcar - Di luar negeri, keadaan seperti ini disebut juga dengan DUI alias driving under influence. Penjabaran sederhananya, mengemudi dengan tubuh di bawah pengaruh zat kimia seperti minuman keras atau narkoba.

Jika kita berbicara mengenai penerapan hukum, di negara maju hukuman bagi pengendara DUI sudah sangat terinci dan memiliki konsekuensi hukuman berat. Mereka bahkan memiliki batasan maksimum kadar alkohol di tubuh serta alat untuk mengeceknya. Terus terang dalam hal ini Indonesia masih tertinggal.

Sayangnya meski didukung perangkat canggih dan hukum memadai sekalipun, sangat sulit untuk memberantas DUI. Pasalnya sulit untuk mendeteksi seluruh pengemudi di jalan yang berada di bawah pengaruh. Paling baru ketahuan bila terjadi suatu insiden.

Bila tak ingin kejadian Daihatsu Xenia maut terjadi pada kita, tentu lebih baik memahami apa saja efek berbahaya yang ditimbulkan oleh beragam jenis narkoba dan alkohol.

ALKOHOL
Banyak dari pengemudi di jalan raya yang mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Gemerlap kehidupan malam di bar atau kafe termasuk salah satu faktor yang membuat hal tersebut. Parahnya, bagi kita yang terbiasa menenggak alkohol, aktivitas mengemudi usai minum terasa menjadi rutinitas standar. Di sinilah kita mulai lengah akan bahaya dari alkohol.

Berdasarkan peraturan yang ditetapkan di negara maju, kandungan alkohol dalam darah maksimum (Blood Alcohol Content) yang diizinkan adalah 0,08%. Di atas itu sudah masuk kategori berbahaya.

Supaya bisa memperkirakan kadar alkohol di dalam darah, pihak berwenang di negara maju pun membuat panduan akan jenis dan jumlah minuman serta pengaruhnya pada BAC. Menenggak lebih dari satu gelas (330 ml) bir sudah bisa menyebabkan BAC di tubuh Anda melewati batas maksimal. Artinya keseimbangan tubuh mulai terganggu dan membahayakan.

Untuk peminum anggur alias wine, cukup 148 ml sudah membuat kadar alkohol di darah melewati batas legal. Bahkan untuk minuman lebih berat seperti liquor, BAC akan melanggar batas ilegal dengan 44 ml saja. Padahal dari pengamatan kami, rata-rata peminum mengonsumsi alkohol di atas jumlah tersebut.

Kami pun bertandang ke Indonesian Defensive Driving Center (IDDC) untuk melakukan uji pengemudian saat mabuk. Tentu saja kami tak perlu menenggak minuman keras, cukup memakai kacamata simulasi mabuk milik IDDC.

Saat memakai kacamata simulasi mabuk tersebut, kami masih bisa melihat dengan jelas ke depan meski agak samar. Tapi yang terjadi kemudian di luar dugaan. Terjadi salah persepsi antara mata dan organ tubuh lainnya. Sementara

mata melihat ke depan dengan jelas, nyatanya posisi tubuh kita berada bukan di tempat yang kita sadari atau perkirakan.

Alhasil untuk memutari kun dengan berjalan kaki saja kita harus berkonsentrasi sangat keras. Bahkan tak jarang kaki terantuk atau malah terjatuh.

Dan ketika kami simulasikan mengemudi mobil di tanah lapang dengan kun, kami langsung seperti amatir. Tak peduli sudah berapa ratus mobil yang kami tes, tetap saja ketika memakai kacamata itu semuanya langsung kacau.

Untung saja di sini hanya kun yang kami tabrak, bukannya pejalan kaki. “Alkohol mengacaukan persepsi dan pikiran. Kita beranggapan koordinasi masih bagus, padahal tidak. Hal ini sangat berbahaya di jalan raya,” ucap Bintarto Agung, Direktur IDDC. “Bagi yang ingin tahu rasanya mengemudi mabuk, bisa menggunakan kacamata seperti yang kami miliki ini.”
  
HEROIN
Saat mengonsumsi heroin, para pecandu merasa tubuh mereka menjadi lebih tenang. Mengemudi pun bukan menjadi suatu masalah besar meski baru mengonsumsinya.

Dari penelitian yang dilakukan  Discovery Channel baru-baru ini, dipaparkan bahaya heroin dalam aktivitas mengemudi. Pemakai memang merasa lebih tenang, namun sesungguhnya otak kita sulit menerima informasi baru. Otak menjadi seperti auto-pilot yang membuat kita bisa mengerjakan hal rutin namun ketika menghadapi perubahan tak mampu mengantisipasinya.

Dalam mengemudi, keadaan selalu berubah dan dibutuhkan kecekatan untuk mengatasinya. Lebih parah lagi, heroin membuat keseimbangan kita kacau. Dan saat dihadapkan pada hal yang mengejutkan, pemakai heroin cenderung cepat berubah dari tenang menjadi panik.

SHABU-SHABU
Pemakai shabu-shabu memiliki asumsi bahwa mengonsumsi zat tersebut meningkatkan kreativitas dan kebugaran tubuh mereka. Makanya selesai mengonsumsi biasanya mereka aktif dan tidak ada keinginan untuk tidur.

Dalam sebuah penelitian, pengendara mobil yang memakai shabu-shabu rata-rata melaju lebih cepat 25% dibanding pengendara normal. Hal ini saja sudah meningkatkan risiko berkali lipat.

Saat shabu-shabu meramerasuk ke tubuh semua organ dipaksa bekerja keras melebihi batas. Makanya walaupun merasa segar bugar, pemakai shabu-shabu cenderung jauh lebih ceroboh. Tubuh juga menjadi lebih banyak keringat dan kepanasan. Bayangkan menyetir lebih kencang dengan kecerobohan tinggi. Malapetaka pun dengan mudah terjadi.

GANJA
Ganja sering dianggap sebagai zat narkotika yang paling ringan dan tidak berbahaya. Apalagi tidak ada efek kecanduan fisik bagi penggunanya. Nyatanya saat dipadukan dengan mengemudi, ganja memiliki faktor mematikan.

Paling kentara adalah kesulitan untuk fokus terhadap satu hal. Bagi beberapa pengguna, pemakaian ganja membuat mereka tenang dan mudah tertawa gembira. Tapi saat diminta untuk fokus, mereka akan sulit untuk mempertahankannya dan pikiran mudah teralihkan ke hal lain.

Ingatan jangka pendek juga mengalami gangguan serius saat mengonsumsi ganja. Jadi jangan harap akan hapal dengan keadaan sekitar saat mengemudi. Dan yang paling parah, saat di bawah pengaruh ganja kita akan memiliki reaksi sangat lambat.
 
Dp Rent Car :
Alamat : Jalan Parang Barong 6 No. 6 Tlogosari Kota Semarang Telepon:  081363303181, 085741808382, 087832094243
 

Category:

Yayasan Wakaf Bina Amal:
Menerima donasi, sedekah atau zakat untuk kegiatan-kegiatan sosial Yayasan Wakaf Bina Amal, call center 085641023867

0 komentar